29 desember 2004 21:09
rakkaustarina, a lame sequel with full of garbage
aku berpendapat, dengan tingkat kebosanan tinggi.
mencoba lepas dari masa lalunya setelah ditinggal dewi tanpa sedikitpun pesan, hendra melanjutkan pendidikannya ke finlandia. setelah dua tahun di sana, tiba-tiba dewi muncul lagi, mengatakan bahwa kepergiannya dahulu karena pamannya yang di australia ingin merasakan merawat anak. hendra menerimanya kembali, dan langsung berencana menikah. the end.
yeah, ceritanya emang cuman segitu. kok bisa jadi novel sepanjang 280 halaman ? entar, aku pengen ngebahas dewi dulu.
dengan alasan kepergian yang sesederhana itu [which is sangat tidak bisa masuk nalar], seharusnya dewi dapat dengan mudah jujur mengatakannya pada hendra. hendra [yang memiliki taraf kewarasan di atas rata-rata] pasti bisa memahaminya, dan pasti akan merelakan kepergiannya. tapi kenapa dia memilih pergi meninggalkan hendra yang sangat mencintainya dan [katanya] sangat dia cintai tanpa pesan, tanpa sedikitpun kabar ? sama sekali tidak ada penjelasan. sepertinya, dewi adalah seorang female chauvinist yang beranggapan setiap pria di muka bumi ini harusnya pernah merasakan sakit, jika ada pria yang belum pernah merasakannya, angkat dia tinggi-tinggi dan hempaskan dia sekuat tenaga.
dan entah terlalu polos, bodoh, atau dibutakan oleh cinta, dengan mudahnya hendra menerima kembali dewi tanpa syarat. oke, aku sependapat dengan hendra bahwa seharusnya cinta memang tidak bisa mati, tapi dewi ? seharusnya dia sadar bahwa dewi tidak benar-benar mencintainya. kembalinya dewi hanyalah a selfish act of a lonely girl. orang seperti dewi layak untuk ditolak mentah-mentah, diceburkan ke danau yang hampir membeku, kemudian dikubur hidup-hidup dalam salju. ok, maybe i’m going too far, but really, i think she deserves it.
balik ke kenapa bisa jadi novel 280 halaman ..
pertama, aku sebenernya bohong waktu bilang cerita novel ini cuma tentang satu paragraf di atas tadi. sebenarnya malah, empat bab awal bercerita tentang hal yang sangat-sangat berbeda, sama sekali tidak ada hubungannya dengan inti cerita. kok bisa ngumpul dalam satu novel ? don’t ask me.
bab-bab awal ini menampilkan randi, sepertinya ingin menyelesaikan ending lousiana-lousiana yang ngambang itu, tapi sayang, sama sekali tidak membantu. cuma ada perpanjangan cerita kebimbangan randi tentang hubungannya dengan “kekasih online”nya fifay. dan sekilas berita bahwa sudah ada nama lain dalam kehidupan randi yaitu laras [laras sahabat dewi atau cuma kekurangan nama ?? gak jelas juga] dan satu bab khusus cuma untuk menjelaskan bahwa malene masih kangen randi, hal yang sebetulnya sudah sangat jelas dalam lousiana-lousiana. dengan kata lain == sampah.
yang kedua, filler. randi kebetulan bertemu dengan tia yang kebetulan naksir dengan adik sepupunya, galuh, yang kebetulan bersahabat dengan dipa, yang kebetulan juga naksir wina, yang kebetulan adalah sahabat baik tia. randi ingin melihat contoh nyata arsitektur tradisional, kebetulan tia tahu tentang kampung naga, dan bersedia mengantarnya. kemudian secara kebetulan, mereka semua ketemu di pasar seni, dan sepakat jalan rame-rame. ah, terlalu banyak kebetulan == sux.
eh, yang ini juga alurnya cuman berdasar feeling karena dialog-dialog mereka di sana terlalu tidak nyambung. barangsiapa yang melalui dialog-dialog itu sanggup tahu dengan pasti urut-urutan babak di pakar, paviliun randi, dan pasar seni tanpa menjadi gila, akan saya angkat menjadi suhu [melet ke arah galuh].
belum lagi cerita tentang vla dan mikka, dua flat-mate hendra yang tidak berperan apapun dalam cerita ini selain bolak-balik mejeng numpang mabuk dan cerita sex. setelah mereka pindah tempat, posisi digantikan anniki dan vuoko, dua gadis lesbian, yang lagi-lagi gak membawa apapun dalam cerita ini selain numpang mabuk dan bertelanjang ria di depan hendra.
yang paling menyebalkan adalah ketika digambarkan pertemuan hendra dengan katri memberi warna lain dalam hidup hendra. kirain bakal pacaran, hendra ngelupain dewi atau gimana gitu. eh, ternyata cuman sekali ketemu, dan itupun mbahas pengungsi. juga masih ada omar, pengungsi somalia yang numpang lewat buat cerita duka.
kemudian lagi-lagi tentang alur. tidak jelas mana yang present, mana yang flashback. penulis terlalu hobi melakukan flashback, kemudian flashback dalam flashback, ada flashback lagi, dan lupa untuk kembali.
dan yang utama, penulis sepertinya lupa dia sedang menulis novel. dia tenggelam dalam penjelasan-penjelasan teknis tentang arsitektur, alam dan budaya finlandia, sejarah lenin dan komunisme, sampe kritik sosial untuk pemerintahan indonesia. sure, it’s ok menambahkan apapun yang dia inginkan, tapi sampai melupakan jalan cerita ?? bad bad bad.
and last, aku bersyukur tidak menemukan buku ini saat dulu ingin membelinya. it’s not worth to buy.
ada 6 komentar
raflesia bilang:
30 desember 2004 jam 02:41.
Kalo cuma mengharapkan cerita cinta dari Rakkaustarina memang gak ada apa-apanya. Soalnya, penulis satu ini beda dari yang lain. Penulis mampu menggambarkan suatu kota dam negara secara rinci sehingga pembaca dapat membayangkannya. Sebenernya cerita Omar nggak sekedar numpang lewat lagi. Jadi pembaca tidak hanya tahu pendapat yang sepihak dari aktivis Greenpeace. Masalah hubungan Hendra dengan Dewi, sebenarnya ini menyangkut pribadi diri kamu sendiri Mal. Sebenarnya Hendara itu kurang lebih kaya kamu Mal! :D Satu lagi, pertemuan Hendra dengan Katri membuktikan perkiraan pembaca salah. Jadi ending cerita ini gak bisa ketebak ama pembaca. Emang sih, aku setuju dengan pendapatmu tentang kisah Randi yang jelas ujungnya. Tapi aku baerharap penulis segera menerbitkan buku ketiga dan kisah Randi berakhir dengan jelas.
jamal bilang:
30 desember 2004 jam 18:53.
well, kalau tujuannya ke situ, berarti cerita yang ada cuma berfungsi sebagai lem dari penjelasan tentang sebuah negara.
dengan begitu, mestinya buku ini dikategorikan dalam klasifikasi buku pariwisata, bukan novel :P
[nilai dikurangi lagi karena salah pengkategorian]
jamal bilang:
21 februari 2005 jam 14:42.
terima kasih kritikannya. heheh
novel yang ketiga, lain lagi temanya. bosan juga saya sama Randi dan Hendra.
XXXX bilang:
28 juni 2006 jam 11:23.
kenapa juga musti ada sekuelnya,,, padahal menurut gw cwerita yang kemeren udah bagus!!! endingnya mungkin emang agak ngambang tapi menurut gw lebih asyik begitu,,, solanya pembaca dapat menghiri kisah sesuai dengan pandangan mereka masing-masing!!!! jadi lebih dapat berimajenasi!!!!
dedo bilang:
7 februari 2010 jam 05:26.
keeeeerrrreen euy novelnya,,,,,,,,,,,,,,,,