17desember200906:42
iseng nulis, dengan tingkat kebosanan tinggi.
apa yang sebenarnya sedang kau lakukan
berulang kali pertanyaan itu terlempar
setiap kali itu pula tak ada jawaban
yang keluar hanya dengungan
kalimat-kalimat bimbang
tatapan tanpa tujuan
atau hanya diam
dan diam
apa yang sebenarnya sedang aku lakukan
berulang kali pertanyaan itu terpikir
setiap kali itu pula tak ada hasil
meskipun cuma jawaban usil
hanya ada desiran lirih
yang tak bisa diusir
isinya cuma desir
dan desir
20oktober200804:11
iseng nulis, dengan tingkat kebosanan entah, jangan tanya.
aku pernah buta. dulu sekali. aku tinggal di sana. sebuah dunia yang sangat indah. tak ada cahaya yang menyilaukan. tak ada warna yang merusak keindahan. tak ada wajah yang menyeramkan. tak ada tulisan yang menyakitkan. hanya kegelapan yang mendamaikan.
tak ada petunjuk jalan. membuatku jatuh ke sebuah jurang. jurang yang kurasa sangat dalam. jangan bertanya lebih dalam mana dari jurang yang kamu kenal. aku tak tahu. tak akan pernah tahu. aku buta. waktu itu.
sakit. sangat. kepalaku mengalami gegar otak. tujuh tulang di tubuhku patah. dua engselnya remuk. seluruh tubuhku penuh memar. dan entah dihiasi berapa puluh jahitan. sakit. sangat. tapi itu belum seberapa. ada yang paling parah. mataku jadi bisa melihat.
semua luka di tubuhku sudah hilang. tapi kini aku jadi orang cacat. aku bisa melihat. coretan warna-warni di pinggir jalan. papan iklan yang penuh kebohongan. kotoran yang bertebaran. pandangan tak ramah orang. semuanya. tak ada kedamaian.
kulihat juga petunjuk jalan. hanya itu yang kubutuhkan. yang membuatku bertahan. meskipun dunia ini menyesakkan. takkan kutukar dengan kedamaian. karena ku tak ingin bertemu jurang.
17juli200800:00
iseng nulis, dengan tingkat kebosanan menakjubkan.
permisi
aku mau naik ke atap
menurunkan bendera yang sedang berkibar dengan gagahnya
untuk kemudian menguburkannya di halaman belakang
yang dalam
yang dalam
yang dalam
30juni200801:01
iseng nulis, dengan tingkat kebosanan tinggi sekali.
setelah ibuku, dia adalah wanita yang paling kucinta di dunia. tempatku berbagi suka dan duka. tempatku bisa menjadi diri sendiri. tempat terakhir dari pencarian panjangku. belahan jiwaku, tulang rusukku. kami berjanji untuk menikah, segera setelah dia menyelesaikan kuliah.
tapi itu dulu. sebelum tiba-tiba dia menghilang, tanpa pernah bisa kuhubungi lagi. tapi itu dulu. sebelum akhirnya aku tahu, itu dilakukannya karena lelaki lain.
aku tak pernah menganggapnya sebagai teman. dia seorang saudara. jauh lebih dekat daripada dengan mereka yang berbagi orang tua. hanya dia tempatku bercerita. hanya di depannya aku bisa meluapkan semuanya. dengan tenang dia akan menghiburku, menjelaskan tak layaknya wanita itu, dan kami akan menghabiskan malam dengan memaki seorang lelaki tanpa nama.
tapi itu dulu. sebelum tiba-tiba dia menghilang, tanpa pernah bisa kuhubungi lagi. tapi itu dulu. sebelum akhirnya aku tahu, dialah lelaki lain itu.
aku pernah bersedia mati demi mereka. aku pernah ingin membunuh mereka. tapi itu dulu. kini aku tak tahu apa yang kurasa, saat kulihat nama mereka tercetak di kertas yang tergeletak di atas meja. sebuah undangan berwarna biru muda, warna favorit kami bertiga.
ah, sudah waktunya aku keluar. kurapikan barang-barangku, dan tak lupa kuraih undangan itu. undangan yang dikirim lewat pos, meskipun jarak kami tak sampai setengah jam. undangan yang entah kenapa sampai ke tanganku, meskipun mereka selalu berusaha menghindar. undangan, yang akhirnya kulemparkan ke tempat sampah di depan kamar.
selamat berbahagia, kawan…
29mei200814:36
iseng nulis, dengan tingkat kebosanan menakjubkan.
sedang sibuk
sibuk belajar
belajar membunuh
membunuh mimpi